Rabu, 20 Agustus 2008

Skandal

Apakah yang kita ketahui tentang skandal? Pasti suatu perbuatan yang tidak benar secara hukum atau secara moral. Kita pernah mengenal ada beberapa peristiwa besar yang berkaitan dengan skandal. Yang terjadi di negara seberang, skandal percintaan antara Presiden Bill Clinton dengan Monica Lewinsky, atau peristiwa yang membuat presiden Gus Dur turun tahta, skandal Bulog-gate. Kemudian yang menggunjang dunia peradilan Indonesia, skandal suap di kejaksaan.
Inti dari skandal adalah keberadaan kita menjadi batu sandungan bagi orang lain. Contoh lain yang sederhana, kita makan minum di depan orang yang berpuasa. Berarti kita menjadi batu sandungan bagi orang yang berpuasa itu.
Guru saya, Jesus Christ, mengajari kita agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. Cara sederhana untuk tidak menjadi batu sandungan adalah melakukan apa yang menjadi kewajiban kita. Bahkan ketika kewajiban itu sebenarnya tidak harus kita lakukan. Dalam kisah pajak, yang seharusnya membayar pajak adalah orang asing. Tetapi Yesus meminta agar para murid membayar pajak agar mereka tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Secara umum Guru saya meminta agar para muridnya tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. How come? Itu pertanyaan yang diajukan oleh seorang teman, karena ia tidak ingin menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hal-hal berikut bisa kita tanyakan pada diri sendiri: apakah cara hidup saya, cara bicara saya, penampilan saya, tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Mari kita lihat sedikit saja.
Jika masyarakat kita sedang susah, bahan pangan menjadi langka, banyak orang kesulitan mendapatkan bahan pangan, banyak anak tidak bisa sekolah, dan masih banyak lagi kesulitan, masih pantaskah jika kita menghamburkan banyak uang saat merayakan ulang tahun.
Akhirnya apa yang mesti kita lakukan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Mawas diri, sadar diri, dan mau berbenah diri untuk menjadi lebih baik. Berusaha agar kita tidak menyebabkan orang lain berbuat dosa adalah usaha yang tepat untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Jika keberadaan kita menyebabkan orang lain menderita, membuat orang lain berbuat jahat atau berbuat dosa, maka kita menjadi batu sandungan bagi mereka. Keberadaan kita mesti menjadi berkat bagi orang lain. Membuat siapa pun yang ada di sekitar kita selamat (dunia-akhirat).
Mawas diri dan refleksi bisa kita lakukan setiap hari, setiap malam, sebelum kita mengakhiri hari. Kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kehadiran kita menjadi berkat bagi orang lain. Seberapa besar kebaikan yang telah kita buat hari ini. Seberapa kuat cinta yang bisa kita persembahkan kepada Tuhan hari ini. Jika ternyata belum sangat terasa, belum kuat dan besar, maka kita mohon kehadirat Tuhan bahwa esok hari kita bisa berbuat lebih baik.

Selasa, 19 Agustus 2008

Kekalahan dan Kebanggaan

Renita, demikian nama kapten basket di sebuah sekolah terkenal itu. Body kecil penampilan agak manja-manja, namun garang di lapangan. Keuletannya dan kepemimpinannya mampu membawa timnya menjuarai beberapa kejuaraan.

Pada kejuaraan terakhir tim basket sekolah mereka berada di atas angin. Dijagokan banyak pihak akan menyabet juara. Kenyataan tidak selalu menyenangkan. Di partai final mereka kalah. Bukan karena kalah kualitas, tetapi lebih banyak melakukan kesalahan sendiri dan tidak mampu memanfaatkan peluang. Lebih dari 20 tembakan bebas hanya mampu disarangkan 2 saja.

Aneka kesalahan sendiri membuat kepercayaan diri makin merosot. Sebaliknya tim lawan semakin berada di atas angin. Di akhir pertandingan mereka harus pulang dengan deraian air mata. Hal ini sangat kontras dengan kondisi ketika mereka berangkat. Kebanggan yang tadi terpancar lenyap tak berbekas.

Tidak ada orang yang bangga dengan kekalahan. Kebanggaan muncul tatkala mendapatkan kemenangan. Sedangkan kekalahan hanya menghadirkan kekecewaan dan rasa malu. sekali lagi, tidak pernah ada kebanggan dalam kekalahan.

Kekalahan dan kebanggan kerapkali muncul dari ego. Tatkala kemampuan diri(tim) kalah dengan pihak lain, perasaan kita seolah hancur. Seolah-olah kita tak berguna lagi. Sebenarnya, dari manakah berasal segala kekuatan dan kelemahan itu? Ketiga kuat dan menang, terkadang kita menjadi jumawa dan sombong. Ketika kalah kita minder dan patah semangat.
Sejatinya kekalahan dan kemenangan adalah dua sisi yang sangat mengagumkan. Orang tidak akan kuat tanpa mengalami kekalahan. Sebaliknya orang tidak akan memiliki rasa percaya diri tanpa kemenangan. Mesti mengalami kekalahan agar menjadi rendah hati dan tidak sombong. Orang mesti mengalami kemenangan untuk menguatkan kepercayaan diri dan keyakinan.
Kekalahan dan kebanggaan adalah dua sisi yang berkaitan. Kalah tanpa patah semangat dan menang tanpa menjadi sombong adalah sebuah kebanggaan. Kalah yang terhormat dan menang yang elegan akan mendatangkan kebanggaan.