Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi (bagian ke-1)
I. Pendahuluan
Buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, sungguh salah satu buku fenomenal di Indonesia. Ia menulis buku ini pertama-tama adalah sebagai persembahan bagi ibunda gurunya yang amat ia sayangi. Idenya muncul ketika ia berada di kelas 3 SD. Hari itu hujan turun dengan sangat derasnya. Ia dan sembilan temannya telah berkumpul di kelas. Mereka sangat takut jika gurunya tidak akan datang. Ternyata ketakutannya tidak terbukti.
Di tengah hujan yang sangat deras itu, Ibu Muslimah datang berpayungkan daun pisang. Semangat yang begitu besar dalam diri Ibu Mus, demikian beliau biasa disapa, membuat Ikal, panggilan akrab Andrea Hirata, berikhtiar untuk menulis sebuah buku bagi gurunya tersebut. Mengapa buku? Karena buku merupakan suatu kemewahan bagi mereka. Maka, menulis sebuah buku merupakan persembahan berharga yang bisa diberikan.
Ketika kelompok Laskar Pelangi ini ‘tercerai berai’ dan Ikal sudah bekerja di Telkom, usaha penulisan buku itu belum juga terealisasi. Bahkan, Pak Harfan—salah satu guru yang mereka sayangi—telah berpulang ke kediaman Tuhan. Hal ini membuat teman-teman Ikal yang ada terus meminta agar janji yang pernah diungkapkan itu segera diwujudkan.
Ikal bingung karena ia tidak pernah menulis sastra. Menulis cerpen pun belum pernah. Ia juga seorang pembaca sastra yang ‘payah’. Ia hanya pernah membaca satu buah buku sastra pemberian ‘cinta pertamanya’, “Seandaianya Mereka Bisa Bicara” (If Only They Could Talk, 1970) karya James Herriot. Setelah ia mencoba dan memulai, hadirlah buku “Laskar Pelangi” dengan sekuelnya yang sungguh menghentak khazanah sastra Indonesia.
Bagi saya, membedah buku “Laskar Pelangi” dengan kerangka pikir pendidikan merupakan suatu kehormatan. Saya bukanlah ahli sastra dan bukan ahli pendidikan. Kebetulan saya ada dan berkecimpung dalam lembaga pendidikan. Kedua, kebetulan pula saya pernah menjadikan buku ini sebagai bahan pengembangan kelompok minat membangun karakter. Saya yakin segala kebetulan ini tentu tidak cukup untuk membuat pemahaman saya akan dunia pendidikan dan akan buku ini sempurna. Saya berharap, sedikit yang bisa saya ungkapkan di sini (dan apa yang akan kita diskusikan) sungguh berarti bagi pengembangan dunia pendidikan.
Label: artikel

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda