Jumat, 19 September 2008

SERIGALA

Ada ungkapan serigala berbulu domba. Itu untuk menggambarkan orang yang penampilan luarnya baik dan santun tetapi sebenarnya ia jahat dan kejam. Orang-orang seperti itu memang banyak kita jumpai dalam masyarakat: Ada dokter berpakaian putih bersih tetapi tega berbisnis obat atau praktik yang tidak benar, ada perempuan berpenampilan anggun dan rupawan tetapi tega mengambil uang orang, dst.
Ungkapan di atas mestinya diimbangi dengan ungkapan ada domba berbulu serigala. Apakah ada domba yang dikira serigala? Pasti ada!!! Misalnya teman saya, dia seorang pastor yang baik, rendah hati, suka menolong, dan rajin. Meski demikian, jika orang bertemu dengan dia tak akan bisa langsung mengatakan bahwa dia pastor. Kerapkali, bahkan hampir selalu ia dikira preman. Karena wajahnya yang sangar, penampilannya yang jarang rapi, rambutnya yang gondrong, dst.
Rupanya penampilan luar seseorang itu mempengaruhi penilaian masyarakat. Masyarakat akan dengan mudah menghakimi seseorang sebagai preman hanya karena baju yang dikenakan, rambut yang kurang tersisir rapi, wajah yang sangar, dst. Sebaliknya orang akan memuji seseorang dengan predikat santun hanya karena bajunya rapid an necis, berparfum, rambutnya dipotong rapi, bicaranya santun, dst. Tetapi apakah mereka bisa melihat yang dibalik penampilan luar itu? Mungkin kita termasuk salah satu orang yang mudah menghakimi orang lain hanya berdasar penampilan luarnya saja. Sebaliknya kita tidak pernah menilai diri kita sendiri berdasar penampilan kita. Bisa jadi kita sebenarnya orang yang sangat jahat, hanya saja kita berlindung di balik penampilan yang rapi jali.
Bagaimana kita bisa membedakan mana yang serigala sungguhan dan mana yang domba sungguhan? Caranya adalah jangan cepat menghakimi seseorang sebagai domba atau serigala. Jangan mudah terkecoh hanya karena penampilan luar semata. Hanya karena seorang pria itu rambutnya gondrong dan memakai anting-anting langsung kita katakan preman. Atau sebaliknya, hanya karena penampilannya rapi dan necis, kita akan mengatakan dia anak baik, bahkan santun dan (maaf)suci!
Untuk bisa menilai seseorang itu serigala atau domba bisa kita mulai dari diri sendiri. Apakah penampilan kita sungguh menampakan diri kita yang sebenarnya. Apakah pakaian putih kita sungguh telah mencerminkan hati kita yang bersih. Jangan-jangan kita berpakaian putih tetapi hati kita belang-belang. Jika ternyata hanya penampilan kita yang seperti domba sedangkan hati kita serigala janganlah menuduh orang lain sebagai serigala.
Memang menuduh orang lain lebih mudah, karena cacat kecil saja yang terdapat dalam diri orang lain akan nampak. Sedangkan cacat kita yang fatal sekalipun tidak akan mudah kita lihat. Bersihkan dahulu balok yang ada dalam matamu baru bantulah membersihkan debu yang ada di mata saudaramu.
Untuk melengkapi catatan saya di atas, baiklah jika di sini saya kutipkan teks dariKitab Suci.
Matius 7:1-5
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Label:

Selasa, 16 September 2008

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi (bagian ke-3)

III. Nilai Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi
A. Kemajemukan
Lembaga pendidikan mesti bisa menjamin adanya rasa aman bagi pesertanya. Rasa aman ketika seseorang hidup bersama yang lain dalam kemajemukan. Ketika pendi-dikan menghilangkan keberagaman, maka pendidikan itu sendiri telah mati. Ciri khusus dari suatu lembaga pendidikan tidak boleh mematikan kemajemukan. Beberapa kemajemukan yang biasanya ada dalam dunia pendidikan adalah: Suku/Ras/Agama, Strata social, Potensi/ bakat, hendaknya dijaga diberi fasilitas untuk berkembang.
Ada banyak lembaga pendidikan berjuang melepaskan diri dari cap ‘homogen’. Cap ini misalnya,”sekolahe wong sugeh-sekolah untuk orang kaya”, “sekolahe wong pinter-sekolahnya anak-anak pintar”, “sekolahe wong Cino-sekolah untuk orang cina(golongan tertentu saja”, dll.
Cap seperti itu jelas tidak bagus. Bagaimana pun juga, lembaga pendidikan yang baik adalah yang terbuka untuk semua. Entah kaya atau miskin, pandai atau kurang pandai, semua boleh mengecap pendidikan yang sama.
Sepuluh anak yang oleh gurunya diberi julukan Laskar Pelangi ini adalah gambaran sempurna akan kemajemukan. Meskipun sama-sama miskin, mereka berasal dari kelompok masyarakat yang berbeda. Ada anak buruh pabrik, ada anak nelayan, ada anak Tionghoa kebun. Ada yang sangat pintar, ada yang hanya bisa tersenyum sepanjang hari. Semuanya tergabung dalam satu kelompok. Mereka saling mendukung, saling menguatkan demi pengembangan diri.
Maka sekolah mesti menjadi sarana pengembangan diri dan mencapai cita-cita. Bagaimanapun terbatasnya keadan seseorang, ia berhak memiliki cita-cita dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita itu. Dan sekolah mesti mampu membantu siswa didik untuk memperoleh prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai.

B. Daya Juang
Pendidikan mesti menjadikan seseorang memiliki pribadi kuat, yang memiliki daya juang tinggi. Pantang menyerah dan giat mencari jalan keluar dari setiap masalah. Pendidikan mesti membantu seseorang menemukan jalan keluar dari masalah. Daya juang yang dimiliki ini untuk ‘mengalahkan’ alam, dan diri sendiri.
Belajar bagaimana menumbuhkan daya juang tidak bisa dilepaskan dari sosok Lintang. Jarak tempuh 80 KM ia lalui tiap hari dengan setia. Tak sekalipun ia membolos. Sepeda Onthel warisan keluarga adalah alat transportasi darat sekaligus sungai, karena jalanan kerap berubah menjadi sungai jika hujan telah turun. Tak jarang jalanan menjadi tempat berjemur bagi buaya. Tantangan itu tidak menyurutkan langkah Lintang untuk berangkat ke sekolah. Sepeda onthel yang telah tua, rantai yang terkadang putus dan tidak bisa disabung lagi, ban yang bocor, itu semua belum cukup untuk mencegah langkah Lintang berangkat ke sekolah. Rumah Lintang paling jauh dari pada 9 temannya yang lain. Meski demikian dialah siswa yang paling rajin di sekolah itu.
Semakin besar tantangan yang ada, semakin besar pula semangat Lintang untuk belajar. Siapa tahu ini adalah saat terakhir untuk belajar. Mungkin itulah yang dipikirkan oleh Lintang. Jangan pernah menunda untuk belajar, karena bisa jadi kita sempat lagi mengetahuinya. (87-102)

C. Penemuan Identitas (Kecerdasan Holistik)
Kerapkali ketika kita membicarakan kecerdasan dalam dunia pendidikan, yang akan kita pikirkan adalah kemampuan matematis. Mereka yang memiliki nilai matematika 9 lebih pandai dari pada anak yang memiliki nilai Pkn 9. Mereka yang memiliki nilai Fisika 9 lebih pandai dari mereka yang memiliki nilai sejarah 9. Mereka yang memiliki bakat dalam seni, dalam organisasi, dalam relasi, bukanlah anak yang pandai jika nilai pelajarannya memiliki rata-rata 6.
Banyak orangtua bingung dan malu jika anaknya lemah dalam menghitung. Mereka rele mengeluarkan banyak uang untuk membayar guru les bagi anak-anaknya. Bahkan banyak anak mesti sekolah dua kali. Yang pertama adalah sekolah pagi hari di sekolah dan yang kedua sore hari di tempat les-lesan. Yang banyak saya jumpai adalah anak-anak yang stress, tidak ceria, dan selalu ketakutan.
Belajar dari SD-SMP Muhamaddiyah, tempat Ikal dan kawan-kawannya belajar, di sana setiap anak dikembangkan sesuai dengan bakatnya. Memang ini adalah bagian tersulit dalam pendidikan, yaitu membantu menemukan identitas diri.
Anak-anak yang memiliki bakat eksak (MIPA) akan mudah diketahui. Misalnya Lintang. Ia langsung dikenal sebagai anak yang super genius karena mampu menjawab seluruh pertanyaan matematis dengan cepat dan tanpa menggunakan alat bantu. Namun, bakat-bakat yang lain akan sulit ditemukan. Bisa saja ada anak yang memiliki bakat luar biasa dalam musik, namun jika ia tidak pernah menyentuh alat musik, ia tidak akan pernah diketahui sebagai pemusik handal.
Pendidikan, harus membantu setiap pribadi untuk mengembangkan dirinya. Jika memang ia adalah bebek, jadikanlah bebek. Jika ia adalah elang jadikanlah elang. Janganlah kita menjadikan elang padahal ia bebek. Maka yang muncul adalah belang, bebek elang.
Lintang dan Mahar dalam novel ini adalah gambaran yang sempurna untuk mendefinisikan kecerdasan. Keduanya sama-sama cerdas dalam bidangnya masing-masing. Lintang tidak mungkin diubah atau sekedar diarahkan untuk menjadi seperti Mahar, demikian pula sebaliknya. Keduanya bisa disatukan dan akan menghasilkan karya yang luar biasa. Maka tugas guru bukanlah sekedar tukang transfer ilmu. Ia mesti juga menjadi seorang pemandu bakat, yang membantu seseorang menemukan dirinya.

D. Bertanggungjawab
Pendidikan mesti membuat peserta didiknya menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarga dan kepada lingkungan. Terkadang bahkan kerapkali, tanggungjawab ini akan berhadapan dengan ego pribadi. Banyak orang mengedepankan egonya dibandingkan tanggungjawab yang mesti diemban.
Lintang adalah pribadi berbakat yang mesti merelakan keinginannya demi tanggung-jawab terhadap keluarga. Ketika ayahnya meninggal ia mesti menggantikan tanggung-jawab yang ada. Ia mesti bekerja menghidupi 14 nyawa yang ada dalam keluarga itu.
Sebagai anak/pelajar seseorang mesti bertanggungjawab. Tidak mencontek, tidak mencari ‘bocoran’ dll. Ada kisah menarik yang terjadi antara Flo dan Mahar. Agar bisa lulus ujian mereka berusaha mencaribantuan kepada ‘orang pintar’ (Tuk Bayan Tula). Jawaban yang diperoleh sederhana, Kalau Ingin Lulus Ujian: Buka Buku, Belajar!! Sebagai seorang pelajar, belajar adalah tanggungjawab terbesar.

E. Bekerja Keras dan Sikap Hidup
Pendidikan harus membawa seseorang berani bekerja keras dan memiliki sikap hidup yang baik. Ada banyak orang gemar menunggu nasib. Mengharapkan panggilan seseorang, menginginkan rejeki nomplok datang. Pendidikan mesti menjauhkan seseorang dari sikap malas dan oportunis.
Mahar adalah siswa yang sangat cerdas dan berbakat. Sekian lama ia hanya menjadi pelatih kera. Ia berharap dinas kabupaten memanggilnya untuk bekerja di bidang kebudayaan. Memang akhirnya ia bisa bekerja di sana, namun jika dilihat bakatnya yang luar biasa dia belumlah berhasil. Pendidikan harus membantu seseorang memiliki kemandirian hidup, tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Ikal berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah Perancis karena usaha kerasnya. Memang motivasinya tidaklah murni. Ia ingin membalaskan dendam Lintang. Sahabat sebangkunya selama 9 tahun. Remaja supergenius yang akhirnya hanya menajdi sopir di pertambangan. Iabekerja keras banting tulang untuk membalaskan dendam itu. Meski mengalami banyak kesulitan, ia berhasil.
Sikap hidup yang baik adalah jaminan. Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan yang sangat tinggi,namun jika sikap hidupnya tidak baik ia akan gagal. Maka sekali lagi sekolah mesti menanamkan dan membantu peserta didik memiliki sikap hidup yang baik.

F. Kemiskinan (Tantangan Pendidikan)
Tantangan terbesar pendidikan adalah kemiskinan.Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan membutuhkan banyak biaya. Meski demikian tidak dibenarkan jika seseorang dilarang mengenyam pendidikan karena miskin. Tantangan ini ada di hadapan kita.
Lintang adalah salah satu contoh korban kemiskinan. Ia yang berbakat tidakbisa mencapai cita-citanya (belajar di Perancis) karena kemiskinan. Sekolah Muhamaddiyah itu sendiri akhirnya ditutup karena kemiskinan.

IV. Penutup
Laskar Pelangi adalah persembahan cinta dari seorang murid untuk gurunya. Seorang murid yang mengalami ketulusan cinta dan dikembangkan pribadinya. Inilah tanggung-jawab kita, membawa sekian banyak pribadi menemukan dirinya. Tentu kita tidak berharap bakat-bakat seperti Mozart berakhir di pangkalan ojek. Tentu kita akan sedih jika bakat sehebat Afandi berakhir sebagai kernet mikrolet.

Label:

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi (bagian ke-2)

II. Novel Laskar Pelangi
“Laskar Pelangi” merupakan novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Seperti yang saya ungkapkan di atas, novel ini adalah sebuah ungkapan terima kasih seorang murid kepada gurunya. Sebagai ungkapan terima kasih—atau lebih tepatnya sebagai sebuah ungkapan cinta—novel ini sebenarnya sangat personal. Bahkan, Andrea sendiri tidak pernah berniat menerbitkannya. Temannyalah yang memiliki inisiatif menerbitkannya. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong (menurut ungkapan Andrea, atau Pulau Belitung menurut pelajaran Geographi) yang penuh dengan keterbatasan.
Mereka bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai dengan kelas 3 SMP dan menyebut diri mereka sebagai Laskar Pelangi. Pada bagian-bagian akhir cerita anggota Laskar Pelangi bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan. Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.

A. Sinopsis
Cerita terjadi di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau jumlah siswa baru tidak sampai 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di sekolah kecil itu.
Mulai dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!
Mereka, Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah karena kesenangan mereka terhadap pelangi - sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara. Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12 tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya.

B. Tokoh-tokoh
1. Ikal (Andrea Hirata)
Tokoh 'aku' dalam cerita ini. Ikal yang selalu menjadi peringkat kedua memiliki teman sebangku bernama Lintang, yang merupakan anak terpintar dalam Laskar Pelangi. Ia berminat pada sastra, terlihat dari kesehariannya yang senang menulis puisi. Ia menyukai A Ling, sepupu dari A Kiong, yang ditemuinya pertama kali di sebuah toko kelontong bernama Toko Sinar Harapan. Pada akhirnya hubungan mereka berdua terpaksa berakhir oleh jarak akibat kepergian A Ling ke Jakarta untuk menemani bibinya.
2. Lintang (Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara)
Teman sebangku Ikal yang luar biasa jenius. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin yang tidak memiliki perahu dan harus menanggung kehidupan 14 jiwa anggota keluarga. Lintang telah menunjukkan minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada disekolah. Ia selalu aktif didalam kelas dan memiliki cita-cita sebagai ahli matematika. Sekalipun ia luar biasa pintar, pria kecil berambut merah ikal ini pernah salah membawa peralatan sekolahnya. Cita-citanya terpaksa ditinggalkan agar ia dapat bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya semenjak ayahnya meninggal.
3. Sahara (N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah)
Satu-satunya gadis dalam anggota Laskar Pelangi. Sahara adalah gadis keras kepala berpendirian kuat yang sangat patuh kepada agama. Ia adalah gadis yang ramah dan pandai, ia baik kepada siapa saja kecuali pada A Kiong yang semenjak mereka masuk sekolah sudah ia basahi dengan air dalam termosnya.
4. Mahar (Ahlan bin Jumadi ahlan bin Zubair bin Awam)
Pria tampan bertubuh kurus ini memiliki bakat dan minat besar pada seni. Pertama kali diketahui ketika tanpa sengaja Bu Muslimah menunjuknya untuk bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni suara. Pria yang menyenangi okultisme ini sering dipojokkan teman-temannya. Ketika dewasa, Mahar sempat menganggur menunggu nasib menyapanya karena tak bisa ke manapun lantaran ibunya yang sakit-sakitan. Akan tetapi, nasib baik menyapanya dan ia diajak petinggi untuk membuat dokumentasi permainan anak tradisional setelah membaca artikel yang ia tulis di sebuah majalah, dan akhirnya ia berhasil meluncurkan sebuah novel tentang persahabatan.
5. A Kiong (Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman)
Anak Hokian. Keturunan Tionghoa ini adalah pengikut sejati Mahar sejak kelas satu. Baginya Mahar adalah suhunya yang agung. Kendatipun pria kecil ini berwajah buruk rupa, ia memiliki rasa persahabatan yang tinggi dan baik hati, serta suka menolong pada siapapun kecuali Sahara. Namun, meski mereka selalu bertengkar, ternyata mereka berdua saling mencintai satu sama lain.
6. Syahdan (Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz)
Anak nelayan yang ceria ini tak pernah menonjol. Kalau ada apa-apa dia pasti yang paling tidak diperhatikan. Misalnya ketika bermain sandiwara, Syahdan hanya kedapatan jadi tukang kipas putri dan itupun masih banyak kesalahannya. Syahdan adalah saksi cinta pertama Ikal, ia dan Ikal bertugas membeli kapur di Toko Sinar Harapan semenjak Ikal jatuh cinta pada A Ling. Syahdan ternyata memiliki cita-cita yang tidak pernah terbayang oleh Laskar Pelangi lainnya yaitu menjadi aktor. Dengan bekerja keras pada akhirna dia menjadi aktor sungguhan meski hanya mendapatkan peran kecil seperti tuyul atau jin... Setelah bosan, ia pergi dan kursus komputer. Setelah itu ia berhasil menjadi network designer.
7. Kucai Mukharam Kucai Khairani
Ketua kelas sepanjang generasi sekolah Laskar Pelangi. Ia menderita rabun jauh karena kurang gizi dan penglihatannya melenceng 20 derajat, sehingga jika ia menatap marah ke arah Borek, maka akan terlihat ia sedang memperhatikan Trapani. Laki-laki ini sejak kecil terlihat bisa menjadi politikus dan akhirnya diwujudkan ketika ia dewasa menjadi ketua fraksi di DPRD Belitong.
8. Borek alias Samson
Pria besar maniak otot. Borek selalu menjaga citranya sebagai laki-laki macho. Ketika dewasa ia menjadi kuli di toko milik A Kiong dan Sahara.
9. Trapani (Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari)
Pria tampan yang pandai dan baik hati ini sangat mencintai ibunya. Apapun yang ia lakukan harus selalu didampingi ibunya, seperti misalnya ketika mereka akan tampil sebagai band yang dikomando oleh Mahar, ia tidak mau tampil jika tak ditonton ibunya. Cowok yang bercita-cita menjadi guru ini akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa karena ketergantungannya terhadap ibunya.
10. Harun (Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan)
Pria yang memiliki keterbelakangan mental ini memulai sekolah dasar ketika ia berumur 15 tahun. Laki-laki jenaka ini senantiasa bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga dan melahirkan tiga anak yang masing-masing berbelang tiga pada tanggal tiga kepada Sahara dan senang sekali menanyakan kapan libur lebaran pada Bu Muslimah. Ia menyetor 3 buah botol kecap ketika disuruh mengumpulkan karya seni kelas enam.

C. Tokoh-tokoh Lain
Bu Muslimah
Nama lengkap N.A. Musimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.
Pak Harfan
Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya.
Flo
Nama aslinya adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.
A Ling
Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.

Label:

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi (bagian ke-1)

I. Pendahuluan
Buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata, sungguh salah satu buku fenomenal di Indonesia. Ia menulis buku ini pertama-tama adalah sebagai persembahan bagi ibunda gurunya yang amat ia sayangi. Idenya muncul ketika ia berada di kelas 3 SD. Hari itu hujan turun dengan sangat derasnya. Ia dan sembilan temannya telah berkumpul di kelas. Mereka sangat takut jika gurunya tidak akan datang. Ternyata ketakutannya tidak terbukti.
Di tengah hujan yang sangat deras itu, Ibu Muslimah datang berpayungkan daun pisang. Semangat yang begitu besar dalam diri Ibu Mus, demikian beliau biasa disapa, membuat Ikal, panggilan akrab Andrea Hirata, berikhtiar untuk menulis sebuah buku bagi gurunya tersebut. Mengapa buku? Karena buku merupakan suatu kemewahan bagi mereka. Maka, menulis sebuah buku merupakan persembahan berharga yang bisa diberikan.
Ketika kelompok Laskar Pelangi ini ‘tercerai berai’ dan Ikal sudah bekerja di Telkom, usaha penulisan buku itu belum juga terealisasi. Bahkan, Pak Harfan—salah satu guru yang mereka sayangi—telah berpulang ke kediaman Tuhan. Hal ini membuat teman-teman Ikal yang ada terus meminta agar janji yang pernah diungkapkan itu segera diwujudkan.
Ikal bingung karena ia tidak pernah menulis sastra. Menulis cerpen pun belum pernah. Ia juga seorang pembaca sastra yang ‘payah’. Ia hanya pernah membaca satu buah buku sastra pemberian ‘cinta pertamanya’, “Seandaianya Mereka Bisa Bicara” (If Only They Could Talk, 1970) karya James Herriot. Setelah ia mencoba dan memulai, hadirlah buku “Laskar Pelangi” dengan sekuelnya yang sungguh menghentak khazanah sastra Indonesia.
Bagi saya, membedah buku “Laskar Pelangi” dengan kerangka pikir pendidikan merupakan suatu kehormatan. Saya bukanlah ahli sastra dan bukan ahli pendidikan. Kebetulan saya ada dan berkecimpung dalam lembaga pendidikan. Kedua, kebetulan pula saya pernah menjadikan buku ini sebagai bahan pengembangan kelompok minat membangun karakter. Saya yakin segala kebetulan ini tentu tidak cukup untuk membuat pemahaman saya akan dunia pendidikan dan akan buku ini sempurna. Saya berharap, sedikit yang bisa saya ungkapkan di sini (dan apa yang akan kita diskusikan) sungguh berarti bagi pengembangan dunia pendidikan.

Label:

Minggu, 14 September 2008

Orang kuat

Dua hari yang lalu saya nonton film kartun di HBO. Kalau tidak salah ingat judulnya Benyard. Kisah para binatang di sebuah peternakan. Pemilik peternakan itu sangat dihormati oleh para binatang karena dia seorang vegetarian ketat.
Yang menarik dari film ini adalah ungkapan Ben, pemimpin dari para binatang. Ia seekor sapi jantan yang karena kharismanya diangkat sebagai pemimpin. Ia memiliki anak angkat, Otis. Ketika Otis beranya kepada ayahnya,Ben,untuk apa mesti berjaga, kita ‘orang’ kuat, tidak akan ada yang akan menyakiti.
Dengan bijak Ben menjawab, “orang kuat membela dirinya, orang yang lebih kuat membela yang lain.” Tentu orang yang lebih kuat itu akan semakin lebih kuat lagi jika yang dibela adalah orang yang lebih lemah, orang yang tidak memiliki power apa-apa. Mereka yang diperlakukan tidak adil, mereka yang dipinggirkan dan disingkirkan. Bagi mereka sungguh diperlukan orang yang lebih kuat/hebat.
Setelah menonton film tersebut, keesokan harinya saya membaca berita di internet tentang vonis hukuman penjara selama 6 bulan kepada seorang pencuri sepeda. Tentu saya setuju jika mereka yang bersalah diberi hukuman, namun dalam konteks ini saya menjadi tidak setuju. Ketidaksetujuan saya didasarkan pada alasan hakim tatkala menjatuhkan vonis. Pemuda itu divonis 6 bulan penjara karena dianggap membuat resah masyarakat karena telah dua kali mencuri sepeda pancal.
Mengapa saya tidak setuju. Karena hakim dan jaksa hanya berani memvonis mereka yang lemah. Pencuri itu orang lemah. Seorang bisu tuli yang tidak bisa membela dirinya sendiri. terlebih lagi ia seorang yang lemah secara mental yang tidakbisamemahami denganbaik apa artinya vonis pengadilan. Kaarena tingkat IQnya yang dibawah rata-rata. Dari sudut ini saya tidak bisa mengerti mengapa jaksa dan hakim memvonis dia dan menjatuhi hukuman penjara. Hanya karena ia lemah, tidak mampu menyewa pengacara, tidak mampu membela diri, tidak bisa menyogok pengadilan, sekali lagi karena dia lemah.
Seandainya para perangkat pengadilan juga melakukan tindakan yang sama kepada para koruptor, kepada para pejabat dan wakil rakyat yang senantiasa membaut resah masyarakat, saya akan menyetujui vosnis hakim. Kenyataannya, lembaga pengadilan seperti mati kutu terhadap orang-orang kuat, karena status social, ekonomi, dan pendidikan.
Kalau kita hanya berani dengan yang lemah, kita tidak akan berkembang sama sekali. Keadilan tidak akan pernah ditegakkan. Yang lemah itu mesti dibela, bukan dipinggirkan dan dibuang. Orang kuat yang memiliki tabiat buruklah yang mesti dihukum dan dipenjara.
Orang kuat membela dirinya, orang yang lebih kuat membela yang lain.
Salam.

Rabu, 10 September 2008

HaRaPaN

Ada banyak hal bagus di dunia ini. Namun tidak semua yang bagus itu baik. Ada banyak hal baik di dunia ini. Namun tidak semua yang baik itu akan bertahan lama, bahkan abadi. Banyak hal baik yang sifatnya sementara saja. Hilang bersama berlalunya waktu. Di antara sekian banyak hal baik ada beberapa yang tahan lama. Salah satu hal baik yang tidak akan hilang ditelan perubahan zaman adalah pengharapan.
Hope is a good thing, maybe the best of thing, and no goodthing ever dies. Demikian dikatakan Shawshank Redemtion. Tentu saja pengharapan juga memiliki tingkatan, mulai yang sederhana hingga yang kompleks. Dari yang bersifat ragawi-bendawi hingga yang bersifat jiwani-rohani.
Setiap anak memiliki harapan yang besar bahwa orang tuanya akan memberinyaoleh-oleh jika mereka bepergian. Harapan bahwa ia akan mendapatkan oleh-oleh membuat anak-anak rela ditinggal pergi,entah kepasar atau ke tempat lain. Harapan itu memunculkan kegembiraan.
Setiap petani senantiasa memiliki pengharapan bahwa ia akan memanen hasil tanam dengan gembira. Meskipun ia tidak berkuasa mengatur jalannya hujan dan badai, para petani senantiasa memiliki pengharapan bahwa tanaman yang diolahnya akan membuahkan hasil yang baik. Pengharapan itu membuat para petani terus bekerja mengupayakan tanah. Membuat hidup mereka bahagia.
Anak-anak mampu berharap karena bisa membayangkan oleh-oleh yang akandiberikan oleh orangtuanya. Para petani bisa berharap karena mampu membayangkan hasilpanen yang akan diperoleh. Bagaimana jika mereka tidak mampu membayangkan hasil dari yang diharapkan? Masihkah mereka berani berharap jika tidak mampu membayangkan apa-apa dari yang diharapkan?
Jika ada yang menaruh harapan kepada sesuatu yang sulit dibayangkan, tentu harapan itu bukan berkaitan dengan kebutuhan badani. Pastilah berkaitan dengan sesuatu yang lebih rohani. Diperlukan dasar yang sangat kuat untuk memiliki pengharapan seperti itu.
Rasul Paulus mengatakan bahwa segala hal baik di dunia ini akan lenyap. Hanya tinggal tiga hal yang tidak akan hilang. Iman, pengharapan, dan cinta. Harapan membuat seseorang mampu tegak berdiri meski ada badai menerjang. Sekali lagi pertanyaan yang mesti diajukan adalah, apakah dasar untuk berharap itu?
Harapan yang kuat biasanya berkaitan dengan janji Allah. Percaya bahwa janji Allah akan terlaksana membuat seseorang mampu menggantungkan harapan, meskipun ia tidak mampu membayangkan hasil yang akan dicapai. Dasar harapan itu adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan ingkar janji.
Abraham mau meninggalkan kampung halamannya untuk pergi ke tempat yang tidak pernah ia ketahui, hanya karena memiliki harapan bahwa Tuhan akan memenuhi janjinya. Harapan akan adanya hidup kekal yang telah dijanjikan Yesus membuat banyak orang rela menderita bahkan mati demi Yesus.
Keyakinan bahwa harapan itu akan terpenuhi tidak membuat mereka yang memiliki berharap terus lepas tangan. Mereka tidak diam menunggu, mereka aktif ikut membangun dunia yang lebih baik. Ada satu ungkapan yang begitu hebat dari mereka yang menaruh seluruh harapannya kepada Yesus. “Kita masih bisa berharap meskipun tidak ada lagi harapan untuk berharap.” Bingung? Tidak usah bingung. Berharap saja.

Label:

Selasa, 09 September 2008

Gigih

Pada perebutan medali emas bola basket olimpiade yang lalu, Amerka Serikat keluar sebagai juara. Namun tim yang dipuji adalah Spanyol bukan Amerika. Spanyol dipuji karena mereka telah menunjukkan sebuah permainan yang memukau, meski mereka tanpa bintang besar seperti para pemain Amerika, mereka tidak pernah gentar. Mereka berjuang tanpa kenal lelah. Para pemain Spanyol menunjukkan sikap tidak mau menyerah sebelum semuanya berakhir.
Semangat para pemain Spanyol itu mengingatkan kita kepada tim bulutangkis putri Indonesia ketika bertanding dalam perebutan piala Uber. Mereka bukanlah tim yang diunggulkan, secara materi pemain, mereka jauh dibawah yang lain. Namun semangat tidak mau menyerah yang dipompakan Susi Susanti, sungguh membuahkan hasil. Selama pertandingan belum dimulai-dan belum berakhir, peluang masih sama. Perbedaan peringkat bukanlah penghadang. Hasilnya mereka meraih medali perak, suatu raihan yang diluar perkiraanbanyakorang.
Gigih. Itulah sedikit gambaran mengenaisemangat mereka. Gigih adalah sikap tidak mau menyerah untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Sikap gigih ini mesti meresapi seluruh kehidupan manusia, juga dalamhubungannya dengan Tuhan. Semangat yang gigih muncul ketika seseorang tahu apa yang ia inginkan. Sekali lagi, juga kaitannya dengan Tuhan.
Apakah yang kita inginkan dari Tuhan? Seberapa gigih kita memperjuangkannya? Belajar tentang kegigihan, kita bisa meniru Bartimeus. Pengemis buta yang dengan gigih memperjuangkan keinginannya kepada Tuhan.
Dia memiliki keinginan yang kuat, yaitu kesembuhan. Ketika mendengar Yesus lewat ia berseru-seru agar diperhatikan. Waktu itu ada banyak orang ada di sekitar Yesus (waktu itu Yesus sangat terkenal, maka di mana pun Ia berada, senantiasa dikelilingi banyak orang). Tentu kehadiranseorang pengemis yang berteriak-teriak menggangu kenyamanan mereka.
Mereka meminta agar Bartimeus tidak berteriak-teriak, namun semakin dilarang pengemis buta ini semakin keras berteriak. Pada akhirnya Yesus mendengar seruannya. Ia meminta agar orang buta itu dibawa kepada-Nya.
Setelah bersua, Yesus bertanya apa yang diinginkan oleh Bartimeus. Dengan tegas pengemis buta itu mengungkapkan keinginannya. “Saya ingin dapat melihat”. Yesus mengabulkan permohonan pengemis buta tersebut.
Bartimeus gembira bukan kepalang. Setelah permintaannya dikabulkan,setelah ia mampu melihat lagi, ia langsung mengucap syukur dan memuliakan Tuhan.
Apa yang bisa kita pelajari? Kerapkali kita tidak pernah mengetahui apa yang kita inginkan dari Tuhan. Akibatnya kita tidak bisa mengupayakannya. Bagaimana mungkin kita akan mengupayakan sesuatu jika kita tidak tahu apa yang kita inginkan. Maka hal pertama yang mesti kita miliki adalah tahu apa yang kita inginkan dihadapan Tuhan.
Hal kedua adalah mengupayakan apa yang kita inginkan dengan sepenuh hati. Selalu ada hambatan dan tantangan, namun jika kita terus teguh mengupayakan, kita akan memperoleh hasil. Tantangan dan hambatan selalu ada di setiap jalan hidup kita. Kegigihan kita dalam berjuang ketika mengupayakan keinginan adalah nilai lebih hidup kita. Semoga hidup kita semakin berarti. ***

Label: