III. Nilai Pendidikan dalam Novel Laskar Pelangi
A. Kemajemukan
Lembaga pendidikan mesti bisa menjamin adanya rasa aman bagi pesertanya. Rasa aman ketika seseorang hidup bersama yang lain dalam kemajemukan. Ketika pendi-dikan menghilangkan keberagaman, maka pendidikan itu sendiri telah mati. Ciri khusus dari suatu lembaga pendidikan tidak boleh mematikan kemajemukan. Beberapa kemajemukan yang biasanya ada dalam dunia pendidikan adalah: Suku/Ras/Agama, Strata social, Potensi/ bakat, hendaknya dijaga diberi fasilitas untuk berkembang.
Ada banyak lembaga pendidikan berjuang melepaskan diri dari cap ‘homogen’. Cap ini misalnya,”sekolahe wong sugeh-sekolah untuk orang kaya”, “sekolahe wong pinter-sekolahnya anak-anak pintar”, “sekolahe wong Cino-sekolah untuk orang cina(golongan tertentu saja”, dll.
Cap seperti itu jelas tidak bagus. Bagaimana pun juga, lembaga pendidikan yang baik adalah yang terbuka untuk semua. Entah kaya atau miskin, pandai atau kurang pandai, semua boleh mengecap pendidikan yang sama.
Sepuluh anak yang oleh gurunya diberi julukan Laskar Pelangi ini adalah gambaran sempurna akan kemajemukan. Meskipun sama-sama miskin, mereka berasal dari kelompok masyarakat yang berbeda. Ada anak buruh pabrik, ada anak nelayan, ada anak Tionghoa kebun. Ada yang sangat pintar, ada yang hanya bisa tersenyum sepanjang hari. Semuanya tergabung dalam satu kelompok. Mereka saling mendukung, saling menguatkan demi pengembangan diri.
Maka sekolah mesti menjadi sarana pengembangan diri dan mencapai cita-cita. Bagaimanapun terbatasnya keadan seseorang, ia berhak memiliki cita-cita dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita itu. Dan sekolah mesti mampu membantu siswa didik untuk memperoleh prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai.
B. Daya Juang
Pendidikan mesti menjadikan seseorang memiliki pribadi kuat, yang memiliki daya juang tinggi. Pantang menyerah dan giat mencari jalan keluar dari setiap masalah. Pendidikan mesti membantu seseorang menemukan jalan keluar dari masalah. Daya juang yang dimiliki ini untuk ‘mengalahkan’ alam, dan diri sendiri.
Belajar bagaimana menumbuhkan daya juang tidak bisa dilepaskan dari sosok Lintang. Jarak tempuh 80 KM ia lalui tiap hari dengan setia. Tak sekalipun ia membolos. Sepeda Onthel warisan keluarga adalah alat transportasi darat sekaligus sungai, karena jalanan kerap berubah menjadi sungai jika hujan telah turun. Tak jarang jalanan menjadi tempat berjemur bagi buaya. Tantangan itu tidak menyurutkan langkah Lintang untuk berangkat ke sekolah. Sepeda onthel yang telah tua, rantai yang terkadang putus dan tidak bisa disabung lagi, ban yang bocor, itu semua belum cukup untuk mencegah langkah Lintang berangkat ke sekolah. Rumah Lintang paling jauh dari pada 9 temannya yang lain. Meski demikian dialah siswa yang paling rajin di sekolah itu.
Semakin besar tantangan yang ada, semakin besar pula semangat Lintang untuk belajar. Siapa tahu ini adalah saat terakhir untuk belajar. Mungkin itulah yang dipikirkan oleh Lintang. Jangan pernah menunda untuk belajar, karena bisa jadi kita sempat lagi mengetahuinya. (87-102)
C. Penemuan Identitas (Kecerdasan Holistik)
Kerapkali ketika kita membicarakan kecerdasan dalam dunia pendidikan, yang akan kita pikirkan adalah kemampuan matematis. Mereka yang memiliki nilai matematika 9 lebih pandai dari pada anak yang memiliki nilai Pkn 9. Mereka yang memiliki nilai Fisika 9 lebih pandai dari mereka yang memiliki nilai sejarah 9. Mereka yang memiliki bakat dalam seni, dalam organisasi, dalam relasi, bukanlah anak yang pandai jika nilai pelajarannya memiliki rata-rata 6.
Banyak orangtua bingung dan malu jika anaknya lemah dalam menghitung. Mereka rele mengeluarkan banyak uang untuk membayar guru les bagi anak-anaknya. Bahkan banyak anak mesti sekolah dua kali. Yang pertama adalah sekolah pagi hari di sekolah dan yang kedua sore hari di tempat les-lesan. Yang banyak saya jumpai adalah anak-anak yang stress, tidak ceria, dan selalu ketakutan.
Belajar dari SD-SMP Muhamaddiyah, tempat Ikal dan kawan-kawannya belajar, di sana setiap anak dikembangkan sesuai dengan bakatnya. Memang ini adalah bagian tersulit dalam pendidikan, yaitu membantu menemukan identitas diri.
Anak-anak yang memiliki bakat eksak (MIPA) akan mudah diketahui. Misalnya Lintang. Ia langsung dikenal sebagai anak yang super genius karena mampu menjawab seluruh pertanyaan matematis dengan cepat dan tanpa menggunakan alat bantu. Namun, bakat-bakat yang lain akan sulit ditemukan. Bisa saja ada anak yang memiliki bakat luar biasa dalam musik, namun jika ia tidak pernah menyentuh alat musik, ia tidak akan pernah diketahui sebagai pemusik handal.
Pendidikan, harus membantu setiap pribadi untuk mengembangkan dirinya. Jika memang ia adalah bebek, jadikanlah bebek. Jika ia adalah elang jadikanlah elang. Janganlah kita menjadikan elang padahal ia bebek. Maka yang muncul adalah belang, bebek elang.
Lintang dan Mahar dalam novel ini adalah gambaran yang sempurna untuk mendefinisikan kecerdasan. Keduanya sama-sama cerdas dalam bidangnya masing-masing. Lintang tidak mungkin diubah atau sekedar diarahkan untuk menjadi seperti Mahar, demikian pula sebaliknya. Keduanya bisa disatukan dan akan menghasilkan karya yang luar biasa. Maka tugas guru bukanlah sekedar tukang transfer ilmu. Ia mesti juga menjadi seorang pemandu bakat, yang membantu seseorang menemukan dirinya.
D. Bertanggungjawab
Pendidikan mesti membuat peserta didiknya menjadi pribadi yang bertanggungjawab. Tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, terhadap keluarga dan kepada lingkungan. Terkadang bahkan kerapkali, tanggungjawab ini akan berhadapan dengan ego pribadi. Banyak orang mengedepankan egonya dibandingkan tanggungjawab yang mesti diemban.
Lintang adalah pribadi berbakat yang mesti merelakan keinginannya demi tanggung-jawab terhadap keluarga. Ketika ayahnya meninggal ia mesti menggantikan tanggung-jawab yang ada. Ia mesti bekerja menghidupi 14 nyawa yang ada dalam keluarga itu.
Sebagai anak/pelajar seseorang mesti bertanggungjawab. Tidak mencontek, tidak mencari ‘bocoran’ dll. Ada kisah menarik yang terjadi antara Flo dan Mahar. Agar bisa lulus ujian mereka berusaha mencaribantuan kepada ‘orang pintar’ (Tuk Bayan Tula). Jawaban yang diperoleh sederhana, Kalau Ingin Lulus Ujian: Buka Buku, Belajar!! Sebagai seorang pelajar, belajar adalah tanggungjawab terbesar.
E. Bekerja Keras dan Sikap Hidup
Pendidikan harus membawa seseorang berani bekerja keras dan memiliki sikap hidup yang baik. Ada banyak orang gemar menunggu nasib. Mengharapkan panggilan seseorang, menginginkan rejeki nomplok datang. Pendidikan mesti menjauhkan seseorang dari sikap malas dan oportunis.
Mahar adalah siswa yang sangat cerdas dan berbakat. Sekian lama ia hanya menjadi pelatih kera. Ia berharap dinas kabupaten memanggilnya untuk bekerja di bidang kebudayaan. Memang akhirnya ia bisa bekerja di sana, namun jika dilihat bakatnya yang luar biasa dia belumlah berhasil. Pendidikan harus membantu seseorang memiliki kemandirian hidup, tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Ikal berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah Perancis karena usaha kerasnya. Memang motivasinya tidaklah murni. Ia ingin membalaskan dendam Lintang. Sahabat sebangkunya selama 9 tahun. Remaja supergenius yang akhirnya hanya menajdi sopir di pertambangan. Iabekerja keras banting tulang untuk membalaskan dendam itu. Meski mengalami banyak kesulitan, ia berhasil.
Sikap hidup yang baik adalah jaminan. Seseorang bisa saja memiliki pengetahuan yang sangat tinggi,namun jika sikap hidupnya tidak baik ia akan gagal. Maka sekali lagi sekolah mesti menanamkan dan membantu peserta didik memiliki sikap hidup yang baik.
F. Kemiskinan (Tantangan Pendidikan)
Tantangan terbesar pendidikan adalah kemiskinan.Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan membutuhkan banyak biaya. Meski demikian tidak dibenarkan jika seseorang dilarang mengenyam pendidikan karena miskin. Tantangan ini ada di hadapan kita.
Lintang adalah salah satu contoh korban kemiskinan. Ia yang berbakat tidakbisa mencapai cita-citanya (belajar di Perancis) karena kemiskinan. Sekolah Muhamaddiyah itu sendiri akhirnya ditutup karena kemiskinan.
IV. Penutup
Laskar Pelangi adalah persembahan cinta dari seorang murid untuk gurunya. Seorang murid yang mengalami ketulusan cinta dan dikembangkan pribadinya. Inilah tanggung-jawab kita, membawa sekian banyak pribadi menemukan dirinya. Tentu kita tidak berharap bakat-bakat seperti Mozart berakhir di pangkalan ojek. Tentu kita akan sedih jika bakat sehebat Afandi berakhir sebagai kernet mikrolet.
Label: artikel